Selasa, 26 November 2013

Hampir Saja Aku Merindukannya

Hembus angin semakin mendesak, rintik hujan semakin keras. Dipersimpangan itu memori kembali berputar. Dia menyapaku kembali dalam bait naungan, dia kembali menuangkan kisah-kisah yang hingga kini masih membuat hatiku sesak. Aku tak mampu menyangkal bahwa hati ini belum sepenuhnya diam bila mendengar secuil kisah tentangnya. Aku masih berada dalam tahap dimana aku masih berusaha, berusaha untuk mengendalikan emosiku kala aku harus merasakan emosi kala menatapmu di persimpangan tadi.

Dipersimpangan tadi pula kau sapa aku dengan raut muka yang sampai saat ini aku masih sulit melupakannya. Dipersimpangan tadi juga kau sapa aku dengan suara yang memberiku efek enggan kala harus melupakannya. Tatapanmu yang seakan menusuk puing-puing hampa hatiku hampir membuatku tak sanggup menolak bila hal itu harus menyapaku. Ruang memori yang selama ini masih tersisa juga seakan ingin masuk kembalu dan berputar dengan melodi hampa.

Hai, bolehkah aku menyapa. Bolehkah aku bercengkerama. Dan wahai hati terbukalah dan katakan bahwa sapanya telah kuterima, katakan bahwa kotak sapanya telah kubuka. Dan dengan jujur harus ku untai bahwa sapanya masih mebekas. Sapanya masih tergambar dengan tegas.

Hai persimpangan yang telah mebuatku seakan bertemu dengannya, terimakasih karena hangatmu telah membuatku bertanya. Bertanya tentang jurang pahit yang sempat kulaui dan kini kurindukan. Bisakah sapanya kembali dengan segera ?, Bisakah jurang pahit itu tertutup dan tak terbuka ?, Bisakah kotak diorama hangat tentang aku dengannya akan terbuka?. Aku masih belum sempat membalas sapanya. Karena bibirku seakan terluka dan tak sanggup bicara. Haruskah aku tunjukkan raut muka tak bahagia dan haruskah kubohongi diriku sendiri bahwa semua itu hanya omong kosong belaka. 

Aku tak minta kau berikan kembali sapaanya, aku tak minta kembali sebuat bait luka yang hingga kini aku masih bingung untuk mengobatinya, bahkan aku tak minta kau kembalikan wujudnya. Karena cukup dipersimpangan tadilah hampir saja aku merindukannya.

Senin, 05 Agustus 2013

Dasar Tak Sopan

Hei, sudah lama aku tak memanggilmu dengan sebutan itu. Aku merindukannya kini. Entah hanya sebutannya atau perwujudan dari sebutan itu, entahlah aku hampir tak paham. Aku merindukan sosok yang kini sudah tidak boleh kurindukan. Bila kutelisik kembali waktu, mungkin yang tersisa hanya bait nostalgia. Yah bait dimana kau hilang, lenyap tanpa kabar. Bait dimana kau permainkan hatiku layaknya sebuah layangan dan dengan tanpa rasa enggan aku menerimanya. Entahlah kini aku seperti terjebak di ruang nostalgia. Kau bak penyihir yang mampu menyulapku hati dan otakku menjadi ruang kosong yang tak mampu berpikir dan merasa apapun selain semua hal tentangmu. Karena ribuan kali kau lukai aku, hatikupun tak menurunkan pamor rasanya padamu. 

Hei, taukah kau?. Kini hatiku sedang bermain peran dimana dia sedang menjadi upik abu yang selalu berusaha bahagia walaupun dirajam dan disiksa. Yah, kau mungkin bertanya "apa yang menyiksamu ? " dan dengan tenang akan kujawab, bahwa rasa cinta yang menyiksaku, Yah dia menyiksaku untuk menjadi diam. Dalam diam itu aku masih mendoakanmu, dalam doa itu aku masih ingin menelisik kabarmu, bahkan dalam diamku aku masih sakit hati karena perlakuanmu, dan satu hal lagi dalam diamku aku berusaha untuk mengikhlaskanmu. Itulah yang menyiksaku, memang terdengar aneh tapi bagiku itu bagai sembilu yang kecil tapi mampu menghasilkan luka yang pedih. Peran itu juga mengenalkanku pada sebuah dilema, Dilema untuk harus pergi atau bertahan, dilema untuk maju dan lupakan atau menyimpan dan mengikhlaskan. Dan hingga sampai saat ini aku masih belum menemui jawaban dari semua itu. 

Hei sepertinya selain menjadi pemeran, hatikupun juga menjadi tersangka dalam kasus suap. Karena dia terlalu banyak disuap oleh rasa cinta sehingga dia lupa bagaimana cara menutup dan mengikhlaskan. Dia pun masih belum mau mengisi ruang cintanya bila pengisinya bukan dirimu. Memang terdengar hebat, karena begitu pedihnya siksaan dihatiku tapi aku masih saja enggan menghapus bait cinta yang mungkin sudah kau lupakan. Kamu memang yang menyakitiku, tapi entah kenapa masih harus kamu yang kuharapkan. Dasar Tak sopan !!!

Sabtu, 25 Mei 2013

Antara aku dan pagi

Hai pagi, apakah kau tau jika dalam list-ku hari ini tertoreh namanya sebagai seseorang yang kurindukan. Bahkan aku dibuat heran dengan lukisan tawanya yang muncul saat aku membuka mata. Aku tak menyangkal bahwa aku masih menjadi pengagumnya dengan sisa-sisa puing hati yang telah roboh berkeping-keping. Aku tak menyalakanmu pagi karena dengan hangatmu kau ingatkan aku pada belaian indah tangannya kala aku menangis. Toh kembali lagi rasaku ini telah bercampur menjadi biasa jadi dengan perlahan-lahan saya akan menghapus rasa biasa.

Pagi, kau tau bahwa dimensiku dengannya telah dijadikan banyak orang sebagai cermin hitam yak tak layak digunakan. Mereka mengunci rapat lukisannya agar tak jerembab layaknya aku dengannya. Tapi tak apa aku tetap mensyukuri karunia tuhan, karena bagaimanapun semua masih tetap menyimpan sebuah hikmah dibalik keadaan yang menekan. Aku tak mau lagi menjadi seseorang yang menuntut untuk menjadi pertama dan selalu ditemani. Itu terkesan bodoh dan tak berperasaan dan aku benci akan hal itu. Hidup ini indah bila sejengkal dari waktu kita gunakan untuk menorehkan senyum. Bila kini tak kudapati senyumnya dalam hariku, aku masih memiliki beribu alasan untuk membuat diriku tersenyum.

Pagi, taukah kamu dalam setiap memori sakit hati tentangnya aku masih saja menitihkan airmata. Tapi seiring berjalannya waktu memori itu seketika sirna. Dan ketika bumi menguak memori indah tentangnya aku masih dengan biasa menjelaskannya. Bahkan ketika kumbang indah datang tak ayal aku datang padanya demi untuk sekedar melupakannya. Entahlah, aku menikmatinya. Menikmati celah indah kala tidak bersamanya, menikmati celah indah walaupun terkadang pahit karenanya, menikmati celah indah bersama para kumbang yang hinggap pada kelopak hidupku tanpanya.

Pagi, mau kau bantu aku untuk senantiasa menorehkan hangatnya sinar matahari demi terlukisnya senyu di wajah polosnya, untuk senantiasa membangkitkan gairahnya demi terlukis dengan tegas pusaran mimpinya, untuk senantiasa mengingatkannya pada tuhannya, untuk senantiasa memberi polesan indah pada hidupnya layaknya rasa yang tumbuh pada lubuk hatiku,untuk senantiasa mengajarkannya untuk tak pernah mau mengenal dengan musuh umat yang bernama menyerah. Satu lagi pagi sampaikan saja melalui hembusan angin yang dingin, agar telukis bagaimana suasana hatiku kini kala tidak bersamanya.

Pagi, maaf bila rasa biasaku untuk merapal mantra doa untuknya belum juga hilang.
Pagi, maaf bila rindu ini masih saja untuknya.










Kamis, 23 Mei 2013

Hujan itu bayangan tentang kamu yang dahulu

Kau telah kumasukkan pada setiap kutipan bayangan yang aku selipkan pada hujan. jadi setiap hujan datang bayangan akan dirimu itu seperti terulang. bukan bermaksud untuk mmbuatmu masuk kepada ruang memori kita bersama. tapi suasana dingin mengkhawatirkan itu kembali menerobos masuk seakan tidak mempedulikan bahwa antara kita telah ada garis pembatas yang kini tidak bisa disatukan. kau tau bukan memori saat kita bersama pada naungan hujan melainkan sosok yang selalu membuatku takut bila suatu hari nanti hujan akan menyakitimu. tapi pada setiap hujan kita mampu melihat pelangi dan harus kuucapkan terimakasih untuk telah menjadi pelangi itu pada setiap bidang-bidang yang seakan tidak condong pada arahnya.

Entahlah aku dibuat bimbang oleh suasana yang terlihat menjemukan ini. ingin sekali rasanya kuteriakan namamu pada setiap butiran deras hujan agar saat aku berteriak tak satupun mendengar suaraku. yah torahan rinduku padamu itu sama derasanya dengan air yang jatuh saat badai. namun apadayaku, pelangiku tak lagi bisa muncul. Tuhan selalu menyisipkan rasa cinta akan dirinya karena dengan derasnya rinduku ini maka semakin derasnya mantra doa indah yang selalu kusebut untukmu. Dan itulah yang kini menjadi obat penenangku kala melihat hujan.

Kini aku mampu bahagia kembali saat melihat hujan karena guratan takut akan dirimu itu sudah hampir tipis. Memang semua terlihat seperti kebiasaan tapi kebiasaan mampu dirubah bila kita berteman dengan kemauan. Terlalu lama aku berteman dengan rasa enggan membuatku kehilangan arah. Hujan, kukatakan maaf padamu bahwa aku pernah membencimu karenanya. Dan untukmu harus kukatakan maaf bahwa aku ingin melepaskanmu, maaf untuk menghapusmu, maaf untuk melupakanmu dan satu lagi maaf bila aku masih akan tetap menyebut namamu dalam setiap doa dibalik hujan turun.

Sabtu, 18 Mei 2013

Ketika hatiku berderai

Ketika kau lupa menanyakan kabarku itu ruang dimana aku menemui ujung lelahku. Entahlah aku merasa seperti ada tapi aku tak ada. tak ayal semua terlihat seperti mimpi buruk.  kuhapuskan mimpi buruk itu dengan merapal setiap namamu dalam mantra doa yang indah pada bingkai doaku.

Seperti pada sebuah bait lagu cinta tertulis bahwa ketika kau pergi, partikel-partikel kecil dalam hatiku masih merindukanmu. Dimesi yang kau berikan padaku itu indah dan mampu mengajakku untuk bangkit pada kubangan duka. aku tak kuasa untuk menghapusnya walau ku lebih lelah untuk menjadi sosok munafik yang selalu mendustakan duka pada sebait senyum yang merekah.

Buih-buih yang melontarkan kata jahat itu seakan tak mau peduli pada ruang hatiku yang masih ingin bertahan menantimu. Tapi seiring berjalannya waktu buih-buih mimpi itu menjadi nyata kudapati kau tak pernah menyapaku. yah, meakipun aku telah kehilangan terhitung saat kau tak lagi hadir dalam setiap deret pesan di ponselkum

Sebelum saatnya tiba aku kembali bertanya pada setiap kumpulan hati kecil yang tak pernah berkata dusta. jalan apa yang harus kupilih ketika aku tersesat pada jurang nanti ini ? mengakhirinya ?, kau tau jawabnya ? yah, lagi lagi aku dibuat bimbang karena batas cintaku padamu sama besarnya dengan batas lelahku menantimu. sejujurnya tatkala aku bertanya, aku selalu kasihan pada setiap hati kecilku karena selalu tak kupedulikan. Kupentingkan rasaku terhadapmu yang entah ku bingung untuk mengelompokkan mana cinta dan mana ego.

Tapi tak apa kini waktunya telah tiba, kuberi kemenangan pada hati kecilku yang seakan menunggu pada jurang lelah yang penuh arti. kulontarkan kata maaf karena aku tak bisa menantimu, kukatakan maaf bahwa aku tak lagi bisa merindukanmu, kukatakan maaf bila aku tak lagi bisa menyentuhmu walau sekedar untuk mengusap keringatmu, dan kukatakan maaf bila aku akan berdusta bila aku akan melupakanmu, serta tak lupa kukatakan maaf bilaaku masih menyayangimu. Tapi maaf aku lelah untuk menjadi sosok tegar yang tak pernah menemui pedulimu.

Kini aku terdiam dengan merapal doaku, aku tak ingin menjadi sosok wanita munafik kembali. percayalah doa indah akan dirimu masih tertuang rapi pada derai airmataku yang terjatuh pada setiap doaku. satu lagi pesanku padamu, jangan lupa untuk songsong bahagiamu

Senin, 22 April 2013

Antara aku dan tuhan

Menanti bukan suatu hukuman melainkan proses menuju pendewasaan
Tapi bagaimana jika aku lelah tapi hati kecilku inginkan bertahan
Yah begitulah hati, saranku jika kamu lelah beristirahatlah!
Semudah itu?
Apakah kau menyayanginya ?
Tidak, aku sudah tak lagi menyayanginya tapi aku telah terbiasa dengannya jadi sulit menghapus kebiasaan
Baiklah kebiasaan tak perlu sekejap kau hapus cukup serahkan pada waktu biarkan dia pergi semaunya.
Bagaimana jika dia tak mau pergi?
Berarti kau yang tak ingin dia pergi, berhentilah untuk sakiti dirimu sendiri.
Tapi?
Apa maumu?
Tidak bisakah dia berpura-pura mencintaiku sampai dia lupa akan kepura-puraannya.
Untuk apa dia hidup dalam kepura-puraan, apa kau betah?
Entahlah, itu namapaknya menyenangkan tapi pasti akan terlihat menyedihkan.
Sudahlah kembali pada poros waktu yang ada nikmati hidupmu dengan seadanya, kau masih punya beribu alasan untuk bangun dari keterpurukan.
Benar katamu, tapi bagaimana jika semua berhenti pada kerinduan dan tangisan?
Mereka berdua adalah sahabat karib kebiasaan jadi itu manusiawi bukan? kembali lagi serahkan semua pada tuhan.
Tuhan tak pernah memberikan apa yang kita inginkan melainkan tuhan memberikan apa yang kita butuhkan jadi mungkin tuhan telah menetukan pilihan.
Benar, mungkin saat ini kau hanya menginginkannya jadi dengan egomu kau berusaha bertahan.
Ini ego? Tuhan maafkan


Sabtu, 06 April 2013

Sajak Tanyaku



Sajak itu yang kau ungkap pada setiap angin dan angin yang menyampaikannya kepadaku
Sajak itu juga yang kau ungkap pada setiap malam dan bintang yang melihatkannya padaku
Sajak itu juga yang kau tulis pada setiap sutra yang kau alirkan agar sampai kepadaku
Kucoba bertanya lagi tapi nihillah yang menemuiku 
Entahlah kini aku berteman dengan nihil karena dialah yang sering kutemui kala kutanyakan sajakku


Air terjun berkata bahwa seperti temannya yang selalu terjun dari dataran tinggi ke dataran rendah itulah aku
Malam mengenalkanku pada sebuah roda yang selalu berputar dan kini itu aku
Menganga dan ragu
Lemas dan menunggu
Itupun juga aku..
Tak mengerti dan mencoba mengerti itupun juga aku
Entahlah hidup dalam bayangan itu juga aku..


Kutuliskan pada setiap pagi bahwa aku benci
Kutuliskan pada setiap hari bahwa aku pergi
Dan terakhir kutuliskan pada setiap air bahwa aku mati