Kamis, 23 Mei 2013

Hujan itu bayangan tentang kamu yang dahulu

Kau telah kumasukkan pada setiap kutipan bayangan yang aku selipkan pada hujan. jadi setiap hujan datang bayangan akan dirimu itu seperti terulang. bukan bermaksud untuk mmbuatmu masuk kepada ruang memori kita bersama. tapi suasana dingin mengkhawatirkan itu kembali menerobos masuk seakan tidak mempedulikan bahwa antara kita telah ada garis pembatas yang kini tidak bisa disatukan. kau tau bukan memori saat kita bersama pada naungan hujan melainkan sosok yang selalu membuatku takut bila suatu hari nanti hujan akan menyakitimu. tapi pada setiap hujan kita mampu melihat pelangi dan harus kuucapkan terimakasih untuk telah menjadi pelangi itu pada setiap bidang-bidang yang seakan tidak condong pada arahnya.

Entahlah aku dibuat bimbang oleh suasana yang terlihat menjemukan ini. ingin sekali rasanya kuteriakan namamu pada setiap butiran deras hujan agar saat aku berteriak tak satupun mendengar suaraku. yah torahan rinduku padamu itu sama derasanya dengan air yang jatuh saat badai. namun apadayaku, pelangiku tak lagi bisa muncul. Tuhan selalu menyisipkan rasa cinta akan dirinya karena dengan derasnya rinduku ini maka semakin derasnya mantra doa indah yang selalu kusebut untukmu. Dan itulah yang kini menjadi obat penenangku kala melihat hujan.

Kini aku mampu bahagia kembali saat melihat hujan karena guratan takut akan dirimu itu sudah hampir tipis. Memang semua terlihat seperti kebiasaan tapi kebiasaan mampu dirubah bila kita berteman dengan kemauan. Terlalu lama aku berteman dengan rasa enggan membuatku kehilangan arah. Hujan, kukatakan maaf padamu bahwa aku pernah membencimu karenanya. Dan untukmu harus kukatakan maaf bahwa aku ingin melepaskanmu, maaf untuk menghapusmu, maaf untuk melupakanmu dan satu lagi maaf bila aku masih akan tetap menyebut namamu dalam setiap doa dibalik hujan turun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar