Menanti bukan suatu hukuman melainkan proses menuju pendewasaan
Tapi bagaimana jika aku lelah tapi hati kecilku inginkan bertahan
Yah begitulah hati, saranku jika kamu lelah beristirahatlah!
Semudah itu?
Apakah kau menyayanginya ?
Tidak, aku sudah tak lagi menyayanginya tapi aku telah terbiasa dengannya jadi sulit menghapus kebiasaan
Baiklah kebiasaan tak perlu sekejap kau hapus cukup serahkan pada waktu biarkan dia pergi semaunya.
Bagaimana jika dia tak mau pergi?
Berarti kau yang tak ingin dia pergi, berhentilah untuk sakiti dirimu sendiri.
Tapi?
Apa maumu?
Tidak bisakah dia berpura-pura mencintaiku sampai dia lupa akan kepura-puraannya.
Untuk apa dia hidup dalam kepura-puraan, apa kau betah?
Entahlah, itu namapaknya menyenangkan tapi pasti akan terlihat menyedihkan.
Sudahlah kembali pada poros waktu yang ada nikmati hidupmu dengan seadanya, kau masih punya beribu alasan untuk bangun dari keterpurukan.
Benar katamu, tapi bagaimana jika semua berhenti pada kerinduan dan tangisan?
Mereka berdua adalah sahabat karib kebiasaan jadi itu manusiawi bukan? kembali lagi serahkan semua pada tuhan.
Tuhan tak pernah memberikan apa yang kita inginkan melainkan tuhan memberikan apa yang kita butuhkan jadi mungkin tuhan telah menetukan pilihan.
Benar, mungkin saat ini kau hanya menginginkannya jadi dengan egomu kau berusaha bertahan.
Ini ego? Tuhan maafkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar