Senin, 22 April 2013

Antara aku dan tuhan

Menanti bukan suatu hukuman melainkan proses menuju pendewasaan
Tapi bagaimana jika aku lelah tapi hati kecilku inginkan bertahan
Yah begitulah hati, saranku jika kamu lelah beristirahatlah!
Semudah itu?
Apakah kau menyayanginya ?
Tidak, aku sudah tak lagi menyayanginya tapi aku telah terbiasa dengannya jadi sulit menghapus kebiasaan
Baiklah kebiasaan tak perlu sekejap kau hapus cukup serahkan pada waktu biarkan dia pergi semaunya.
Bagaimana jika dia tak mau pergi?
Berarti kau yang tak ingin dia pergi, berhentilah untuk sakiti dirimu sendiri.
Tapi?
Apa maumu?
Tidak bisakah dia berpura-pura mencintaiku sampai dia lupa akan kepura-puraannya.
Untuk apa dia hidup dalam kepura-puraan, apa kau betah?
Entahlah, itu namapaknya menyenangkan tapi pasti akan terlihat menyedihkan.
Sudahlah kembali pada poros waktu yang ada nikmati hidupmu dengan seadanya, kau masih punya beribu alasan untuk bangun dari keterpurukan.
Benar katamu, tapi bagaimana jika semua berhenti pada kerinduan dan tangisan?
Mereka berdua adalah sahabat karib kebiasaan jadi itu manusiawi bukan? kembali lagi serahkan semua pada tuhan.
Tuhan tak pernah memberikan apa yang kita inginkan melainkan tuhan memberikan apa yang kita butuhkan jadi mungkin tuhan telah menetukan pilihan.
Benar, mungkin saat ini kau hanya menginginkannya jadi dengan egomu kau berusaha bertahan.
Ini ego? Tuhan maafkan


Sabtu, 06 April 2013

Sajak Tanyaku



Sajak itu yang kau ungkap pada setiap angin dan angin yang menyampaikannya kepadaku
Sajak itu juga yang kau ungkap pada setiap malam dan bintang yang melihatkannya padaku
Sajak itu juga yang kau tulis pada setiap sutra yang kau alirkan agar sampai kepadaku
Kucoba bertanya lagi tapi nihillah yang menemuiku 
Entahlah kini aku berteman dengan nihil karena dialah yang sering kutemui kala kutanyakan sajakku


Air terjun berkata bahwa seperti temannya yang selalu terjun dari dataran tinggi ke dataran rendah itulah aku
Malam mengenalkanku pada sebuah roda yang selalu berputar dan kini itu aku
Menganga dan ragu
Lemas dan menunggu
Itupun juga aku..
Tak mengerti dan mencoba mengerti itupun juga aku
Entahlah hidup dalam bayangan itu juga aku..


Kutuliskan pada setiap pagi bahwa aku benci
Kutuliskan pada setiap hari bahwa aku pergi
Dan terakhir kutuliskan pada setiap air bahwa aku mati


Asaku


Mil demi mil kaki berjalan menuju jalan pipih
Kilo demi kilo kaki berlari dengan lirih
Centi demi centi kaki terseret mencari sebuah arti
Tidakkah kau dengar bahwa dia sudah letih

Asamu itu asaku.....
Gembiramu itu gembiraku...
Letihmu itu letihku ....
Kau tuliskan itu pada setiap cahaya yang kulihat
Lalu kemana sajak itu?