Sabtu, 25 Mei 2013

Antara aku dan pagi

Hai pagi, apakah kau tau jika dalam list-ku hari ini tertoreh namanya sebagai seseorang yang kurindukan. Bahkan aku dibuat heran dengan lukisan tawanya yang muncul saat aku membuka mata. Aku tak menyangkal bahwa aku masih menjadi pengagumnya dengan sisa-sisa puing hati yang telah roboh berkeping-keping. Aku tak menyalakanmu pagi karena dengan hangatmu kau ingatkan aku pada belaian indah tangannya kala aku menangis. Toh kembali lagi rasaku ini telah bercampur menjadi biasa jadi dengan perlahan-lahan saya akan menghapus rasa biasa.

Pagi, kau tau bahwa dimensiku dengannya telah dijadikan banyak orang sebagai cermin hitam yak tak layak digunakan. Mereka mengunci rapat lukisannya agar tak jerembab layaknya aku dengannya. Tapi tak apa aku tetap mensyukuri karunia tuhan, karena bagaimanapun semua masih tetap menyimpan sebuah hikmah dibalik keadaan yang menekan. Aku tak mau lagi menjadi seseorang yang menuntut untuk menjadi pertama dan selalu ditemani. Itu terkesan bodoh dan tak berperasaan dan aku benci akan hal itu. Hidup ini indah bila sejengkal dari waktu kita gunakan untuk menorehkan senyum. Bila kini tak kudapati senyumnya dalam hariku, aku masih memiliki beribu alasan untuk membuat diriku tersenyum.

Pagi, taukah kamu dalam setiap memori sakit hati tentangnya aku masih saja menitihkan airmata. Tapi seiring berjalannya waktu memori itu seketika sirna. Dan ketika bumi menguak memori indah tentangnya aku masih dengan biasa menjelaskannya. Bahkan ketika kumbang indah datang tak ayal aku datang padanya demi untuk sekedar melupakannya. Entahlah, aku menikmatinya. Menikmati celah indah kala tidak bersamanya, menikmati celah indah walaupun terkadang pahit karenanya, menikmati celah indah bersama para kumbang yang hinggap pada kelopak hidupku tanpanya.

Pagi, mau kau bantu aku untuk senantiasa menorehkan hangatnya sinar matahari demi terlukisnya senyu di wajah polosnya, untuk senantiasa membangkitkan gairahnya demi terlukis dengan tegas pusaran mimpinya, untuk senantiasa mengingatkannya pada tuhannya, untuk senantiasa memberi polesan indah pada hidupnya layaknya rasa yang tumbuh pada lubuk hatiku,untuk senantiasa mengajarkannya untuk tak pernah mau mengenal dengan musuh umat yang bernama menyerah. Satu lagi pagi sampaikan saja melalui hembusan angin yang dingin, agar telukis bagaimana suasana hatiku kini kala tidak bersamanya.

Pagi, maaf bila rasa biasaku untuk merapal mantra doa untuknya belum juga hilang.
Pagi, maaf bila rindu ini masih saja untuknya.










Kamis, 23 Mei 2013

Hujan itu bayangan tentang kamu yang dahulu

Kau telah kumasukkan pada setiap kutipan bayangan yang aku selipkan pada hujan. jadi setiap hujan datang bayangan akan dirimu itu seperti terulang. bukan bermaksud untuk mmbuatmu masuk kepada ruang memori kita bersama. tapi suasana dingin mengkhawatirkan itu kembali menerobos masuk seakan tidak mempedulikan bahwa antara kita telah ada garis pembatas yang kini tidak bisa disatukan. kau tau bukan memori saat kita bersama pada naungan hujan melainkan sosok yang selalu membuatku takut bila suatu hari nanti hujan akan menyakitimu. tapi pada setiap hujan kita mampu melihat pelangi dan harus kuucapkan terimakasih untuk telah menjadi pelangi itu pada setiap bidang-bidang yang seakan tidak condong pada arahnya.

Entahlah aku dibuat bimbang oleh suasana yang terlihat menjemukan ini. ingin sekali rasanya kuteriakan namamu pada setiap butiran deras hujan agar saat aku berteriak tak satupun mendengar suaraku. yah torahan rinduku padamu itu sama derasanya dengan air yang jatuh saat badai. namun apadayaku, pelangiku tak lagi bisa muncul. Tuhan selalu menyisipkan rasa cinta akan dirinya karena dengan derasnya rinduku ini maka semakin derasnya mantra doa indah yang selalu kusebut untukmu. Dan itulah yang kini menjadi obat penenangku kala melihat hujan.

Kini aku mampu bahagia kembali saat melihat hujan karena guratan takut akan dirimu itu sudah hampir tipis. Memang semua terlihat seperti kebiasaan tapi kebiasaan mampu dirubah bila kita berteman dengan kemauan. Terlalu lama aku berteman dengan rasa enggan membuatku kehilangan arah. Hujan, kukatakan maaf padamu bahwa aku pernah membencimu karenanya. Dan untukmu harus kukatakan maaf bahwa aku ingin melepaskanmu, maaf untuk menghapusmu, maaf untuk melupakanmu dan satu lagi maaf bila aku masih akan tetap menyebut namamu dalam setiap doa dibalik hujan turun.

Sabtu, 18 Mei 2013

Ketika hatiku berderai

Ketika kau lupa menanyakan kabarku itu ruang dimana aku menemui ujung lelahku. Entahlah aku merasa seperti ada tapi aku tak ada. tak ayal semua terlihat seperti mimpi buruk.  kuhapuskan mimpi buruk itu dengan merapal setiap namamu dalam mantra doa yang indah pada bingkai doaku.

Seperti pada sebuah bait lagu cinta tertulis bahwa ketika kau pergi, partikel-partikel kecil dalam hatiku masih merindukanmu. Dimesi yang kau berikan padaku itu indah dan mampu mengajakku untuk bangkit pada kubangan duka. aku tak kuasa untuk menghapusnya walau ku lebih lelah untuk menjadi sosok munafik yang selalu mendustakan duka pada sebait senyum yang merekah.

Buih-buih yang melontarkan kata jahat itu seakan tak mau peduli pada ruang hatiku yang masih ingin bertahan menantimu. Tapi seiring berjalannya waktu buih-buih mimpi itu menjadi nyata kudapati kau tak pernah menyapaku. yah, meakipun aku telah kehilangan terhitung saat kau tak lagi hadir dalam setiap deret pesan di ponselkum

Sebelum saatnya tiba aku kembali bertanya pada setiap kumpulan hati kecil yang tak pernah berkata dusta. jalan apa yang harus kupilih ketika aku tersesat pada jurang nanti ini ? mengakhirinya ?, kau tau jawabnya ? yah, lagi lagi aku dibuat bimbang karena batas cintaku padamu sama besarnya dengan batas lelahku menantimu. sejujurnya tatkala aku bertanya, aku selalu kasihan pada setiap hati kecilku karena selalu tak kupedulikan. Kupentingkan rasaku terhadapmu yang entah ku bingung untuk mengelompokkan mana cinta dan mana ego.

Tapi tak apa kini waktunya telah tiba, kuberi kemenangan pada hati kecilku yang seakan menunggu pada jurang lelah yang penuh arti. kulontarkan kata maaf karena aku tak bisa menantimu, kukatakan maaf bahwa aku tak lagi bisa merindukanmu, kukatakan maaf bila aku tak lagi bisa menyentuhmu walau sekedar untuk mengusap keringatmu, dan kukatakan maaf bila aku akan berdusta bila aku akan melupakanmu, serta tak lupa kukatakan maaf bilaaku masih menyayangimu. Tapi maaf aku lelah untuk menjadi sosok tegar yang tak pernah menemui pedulimu.

Kini aku terdiam dengan merapal doaku, aku tak ingin menjadi sosok wanita munafik kembali. percayalah doa indah akan dirimu masih tertuang rapi pada derai airmataku yang terjatuh pada setiap doaku. satu lagi pesanku padamu, jangan lupa untuk songsong bahagiamu