Jumat, 26 Oktober 2012

Jahanam



Dibalik selimut  sandiwara
Ditulis pada sebuah paradoks tua
Di gubuk tua yang hampir rata 
Semua terasa fana
Terasa hampa
Terasa baka
Pedih dan punah

Tersayat ribuan belati
Tertusuk dan nyaris mati
Itulah kami yang selalu merintih
Perih......
Pedih.....

Suasana terlihat gaduh
Auman malam semakin bergemuruh
Rintihan hati yang kian hari kian menderu
Bak fatamorgana yang terasa semu

Tulang terkoyak dan hampir hancur
Darah terus meleleh dan deras mengucur
Tatapan mata yang nyaris kabur

Mana sinar harapan yang kita damba bersama  ?
Mana Kedamaian yang dulu kita jaga ?
Sudah matikah ?
Sudah runtuhkah ?
Atau hilang ditelan bumi  ?
Atau hilang diserap jahatnya ombak laut?

Hei jahanam....
Bila kau punya akal, sadarlah.....
Bila kau punya hati, bangunlah.....

Dan bila kau memang hina tetaplah tidur dalam kehinaanmu
Dan bila kau memang bodoh tetaplah hancur dalam mimpimu
Dan bila kau memang lemah tetaplah dalam ocehan yang kian hari kian menghancurkanmu
Dan inilah auman hatiku.....


2 komentar:

  1. Kata-katanya sangat keras sekali. puisi Anda penuh dengan emosi =)

    BalasHapus