Dibalik selimut sandiwara
Ditulis pada sebuah paradoks tua
Di gubuk tua yang hampir rata
Semua terasa fana
Terasa hampa
Terasa baka
Pedih dan punah
Tersayat ribuan belati
Tertusuk dan nyaris mati
Itulah kami yang selalu merintih
Perih......
Pedih.....
Suasana terlihat gaduh
Rintihan hati yang kian hari kian menderu
Bak fatamorgana yang terasa semu
Tulang terkoyak dan hampir hancur
Darah terus meleleh dan deras mengucur
Tatapan mata yang nyaris kabur
Mana sinar harapan yang kita damba bersama ?
Mana Kedamaian yang dulu kita jaga ?
Sudah matikah ?
Sudah runtuhkah ?
Atau hilang ditelan bumi
?
Atau hilang diserap jahatnya ombak laut?
Hei jahanam....
Bila kau punya akal, sadarlah.....
Bila kau punya hati, bangunlah.....
Dan bila kau memang hina tetaplah tidur dalam kehinaanmu
Dan bila kau memang bodoh tetaplah hancur dalam mimpimu
Dan bila kau memang lemah tetaplah dalam ocehan yang kian
hari kian menghancurkanmu
Dan inilah auman hatiku.....

Kata-katanya sangat keras sekali. puisi Anda penuh dengan emosi =)
BalasHapusTerima kasih, saya memaqng sedang marah
Hapus